Mobil Listrik di Indonesia Dianggap Belum Pantas

mobil listrik di Indonesia

Populasi mobil listrik di Indonesia dianggap belum saatnya untuk diterapkan. Hal itu karena berbagai hal yang belum siap ketersediaannya di negara ini.

Jakarta (Tenaga Kuda) – Yohanes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menilai klau Indonesia belum pantas untuk bisa mempopulerkan mobil listrik.

Bahkan ia menyebut kalau kehadiran mobil listrik bisa mematikan beberapa potensi industri otomotif di Indonesia.

“Kalau ada wacana yang bilang pada tahun 2020 atau 2040 semua mobil harus sudah mobil listrik, justru saya mempertanyakan. Apalagi untuk Indonesia yang regulasi tentang mobil listrik di Indonesia belum jelas,” katanya di Jakarta.

mobil listrik di Indonesia

Ia khawatir, kalau peredaran mobil listrik di Indonesia nantinya malah akan mematikan industri otomotif di negara ini. “Misalnya ada merek X yang mulai jual mobil listrik, tetapi semua komponennya impor dari negara lain,” ujarnya.

“Jadi disini cuma tukang jahit tinggal rakit komponen saja. Lha terus di Indonesia produksi apa? Otomatis cuma produksi cangkang bodi saja, tentu ini akan membuat industrinya mati,” kata Nangoi.

Kekhawatiran Nangoi jika para produsen mobil listrik di Indonesia dalam waktu dekat nekat untuk mulai memasarkan produknya adalah membuat industri itu sendiri mati.

“Kalau cuma jadi tukang jahit, otomatis Indonesia cuma produksi bodi saja, itu pun ada yang dikurangi karena mobil istrik tidak butuh beberapa komponen seperti knalpot. Pasti lama kelamaan industrinya akan mati.”

“Padahal saat ini kita punya potensi untuk mengekspor mobil ke beberapa negara di dunia,” ucap Nangoi.

mobil listrik di Indonesia

Ia juga menjelaskan, saat ini di dunia baru tiga negara yang mampu membuat baterai untuk kebutuhan mobil listrik. Yakni Jepang, Cina, dan Korea.

Nah kalau Indonesia sudah bisa produksi baterai sendiri, artinya kita sudah masuk dalam jajaran tiga besar negara itu. Tapi kan kenyataannya belum,” kata Nangoi.

Namun ia mengaku mengapresiasi langkah pemerintah yang lebih dulu menggelontorkan tentang program mobil hybrid.

Dengan mobil hibrida ini, memiliki kemampuan konsumsi bahan bakar hingga 1 liter untuk 70 km. Nangoi menilai, mobil hybrid lebih bijak dibanding mobil listrik di Indonesia.

“Saya rasa lama kelamaan mobil hybrid ini akan lebih diterima dan mobil berbahan bakar fosil akan dengan sendirinya berkurang. Ini sama halnya ketika mobil transmisi otomatis dulu tidak diterima, tapi sekarang hampir semua masyarakat pilih mobil matik,” lugas dia.

SHARE