Orang Indonesia Makin Individualis Bikin Penjualan Mobil Bekas Bergeser

Tren penjualan mobil bekas kini bergeser dalam hal pemilihan model, yang tanpa disadari berkaitan dengan kultur kaum milenial.

Jakarta (TenagaKuda) – Kultur masyarakat Indonesia yang berbeda di era milenial ini ternyata turut memengaruhi penjualan mobil bekas terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Hal tersebut diungkapkan Presiden Direktur mobil88 Halomoan Fischer Lumbantoruan. Menurut dia ada pergeseran minat beli masyarakat terhadap mobil bekas di era milenial seperti sekarang ini. “Dulu orang indonesia sangat MPV oriented, tapi akhir-akhir ini bergerak ke dua arah, yaitu ke SUV dan small car,” katanya.

Ia menjelaskan, untuk SUV, calon pembeli mobil bekas mengarah ke low SUV seperti Daihatsu Terios atau Toyota Rush atau yang high SUV seperti Fortuner. Sementara untik yang small car bisa ke LCGC (Low Cost Green Car/Mobil Murah Ramah Lingkungan) atau ke hatchback seperti Honda Jazz dan Toyota Yaris.

“Ini pergerakan kultur, kalau dulu orang Indonesia sering kumpul atau pergi bareng keluarga, sekarang kulturnya lebih individualis, lebih suka pergi sendiri, nongkrong-nongkrong sendiri di cafe, jadi lebih pilih mobil yang kecil,” lanjut Fischer.

Penjualan Mobil Bekas

Sementara untuk yang memilih SUV, kata dia, lebih ke arah orang ingin terlihat stylish. “Dulu memiliki mobil sedan menjadi lambang kesuksesan, sekarang kalau orang punya mobil makin besar dan tinggi semakin dianggap lebih sukses,” jelas dia.

Dalam catatan Fischer, tahun ini penjualanobil bekas di mobil88 naik 5% dari 20ribuan unit di tahun lalu ke 21ribu unit. Ditegaskan Fischer, kebijakan pemerintah tentang mobil berplat ganjil dan genap juga tidak berpengaruh besar terhadap pasar mobil bekas.

“Ada efeknya tapi tidak signifikan. Minat untuk tambah mobil dengan plat ganjil genap ada, tapi kalau masih ada cicilan maka pengajuan kredit lagi untuk beli mobil kedua susah.” kata dia. Karena itulah, yang biasanya membeli mobil kedua karena alasan plat ganjil genap ini adalah yang membeli secara tunai, dan kalangan mapan.

“Misalnya dia sudah punya Alphard dengan plat genap, beli lagi Innova dengan plat ganjil. Kalau untuk kelas LCGC kurang, karena biasanya dia masih kredit mobil pertamanya jadi mikir ulang untuk beli mobil kedua,” tukas Fischer.

SHARE